Tulus, seorang anak laki-laki pendiam berusia 13 tahun, rajin mengikuti tahlilan di desanya
karena ajakan dari pak dhenya. Sejak ayahnya meninggal, Tulus sering merasa kesepian.
Ibunya bekerja hingga larut malam demi memenuhi kebutuhan hidup, membuat rumah
mereka sering terasa sunyi. Karena itulah, tahlilan menjadi satu-satunya momen di mana Tulus
bisa merasakan kebersamaan dan berusaha mengisi kekosongan di hatinya.
Tulus menemukan ketenangan dalam doa, kehangatan dalam interaksi dengan warga desa
yang memperlakukannya dengan ramah di acara tahlilan. Di antara para orang dewasa, hanya
dia satu-satunya anak kecil yang selalu hadir, sementara teman-teman sebayanya menolak
ajakan untuk ikut serta.
Namun, suatu malam Tulus yang awalnya tak takut dengan hal mistis, merasa paranoid akan
hal-hal ghaib karena omongan dari teman-temannya. Setelah berhasil menggaggalkan aksi
maling dan hamper tertabrak motor dalam perjalanan pulang, Tulus mulai merasakan dan
melihat berbagai keanehan.
Saat ia tiba di rumah, Tulus terkejut melihat banyak orang berkumpul untuk tahlilan. Ia
mengira itu adalah peringatan 100 hari wafatnya sang ayah, namun ketika berbagai hal aneh
mulai terjadi di sekitarnya, ia mulai merasa ada yang tidak beres, hingga akhirnya kenyataan
pahit terungkap.